20 Februari 2008

Masalah Suku Cadang

KOMPAS, Rabu, 01-03-2000. Halaman: 32

MAHAL BELUM TENTU BAIK

SALAH satu alasan orang membeli mobil adalah sebagai alat angkut dari satu tempat ke tempat lain secara lebih cepat dan nyaman. Apalagi bila melihat sarana transportasi umum yang belum memberi rasa aman dan nyaman. Namun, karena harga mobil baru tidak terjangkau, banyak orang memilih mobil bekas. Agar mobil bekas bisa terasa nyaman, mau tidak mau beberapa bagian mobil harus diganti. Dampaknya, penjualan suku cadang (bagian mobil) pun ikut meningkat.

Saat ini, jelas Ig Djoko Mulyanto, manager suku cadang sebuah dealer mobil di Jawa Tengah, permintaan suku cadang meningkat dua kali dibanding sebelum krisis. Ini mendukung kenyataan, di saat penjualan unit mobil baru menurun, penjualan suku cadang akan naik.

Terjadinya banjir berbagai kategori suku cadang di pasar saat ini, disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih longgar dan adanya penurunan bea impor. Selintas, membanjirnya macam-macam suku cadang akan menguntungkan pembeli, karena bisa memilih sesuai kemampuan.

Namun memilih berbagai macam suku cadang, ternyata tidak gampang. Istilah ada harga ada rupa, tidak berlaku. Suku cadang yang mahal, belum menjamin kualitas yang lebih baik.

Kriteria suku cadang asli mobil adalah, pembuat suku cadang mensuplainya ke pabrik lalu dipasangkan pada mobil. Lalu, suku cadang pengganti dijual dengan menggunakan kotak berlabel merek itu. Logikanya, tidak ada pabrik yang mau membuat suku cadang dengan mutu lebih baik, lalu dilempar ke pasar dengan harga lebih tinggi.

Maka, umumnya pasar dibanjiri suku cadang imitasi yang lebih murah.

Saat ini, pasar suku cadang dikuasai enam kategori.

1. Suku cadang imitasi yang memakai kotak asli dengan label sama dengan merek mobil. Ini adalah penipuan. Penipuan cara pertama, suku cadang asli bekas pakai diproses secara kimiawi sehingga semua kotoran lepas dan tampak baru kembali. Setelah diperbaiki atau diganti bagian yang aus, lalu dimasukkan ke kotak asli merek mobil. Seharusnya, suku cadang ini diakui sebagai suku cadang rebuilt. Namun untuk meraih keuntungan besar, dipasang bandrol yang nyaris sama dengan suku cadang baru dan asli.

Penipuan kedua, suku cadang imitasi tembakan, yang bentuknya sama dikemas dalam kotak yang berlabel sama dengan merek mobil. Menggunakan suku cadang seperti ini, sepertinya celaka dua-tiga kali. Unsur penipuan kental sekali dan kualitas barang amat rendah. Suku cadang yang masuk kategori ini biasanya kanvas kopling, kanvas rem termasuk brake pad. Repotnya, harga suku cadang jenis ini lebih tinggi dari suku cadang imitasi yang menggunakan kotak dan merk sendiri. Ini mengesankan suku cadang yang dibeli asli.

2. Banyak suku cadang imitasi (tembakan) yang bentuknya sama, tetapi oleh pabrik pembuat diberi label yang jelas dan mencantumkan mereknya sendiri. Seperti ball join dan tie rod bermerek 555 atau cross join GMB. Harga lebih murah dibanding suku cadang asli berlabel merek mobil. Kualitas suku cadang itu dibuat dengan standar yang tidak sama dengan yang asli.

Menggunakan suku cadang imitasi perlu kiat khusus. Bila digunakan untuk bagian yang mudah dibongkar pasang, bagian yang dapat dijangkau tanpa bongkar "isi perut", maka penggunaan suku cadang ini tidak terlalu mengganggu. Namun bila digunakan untuk bagian mesin, disarankan tidak memakai suku cadang imitasi. Masalahnya, bila terjadi sesuatu, upaya turun mesin justru akan mengakibatkan pengeluaran biaya lebih tinggi.

3. Banyak pula suku cadang imitasi yang pabrik pembuatnya sama dengan suku cadang yang dipasarkan, lewat agen merek mobil itu. Suku cadang seperti ini dikatakan satu pabrik tetapi menggunakan merek lain. Dalam hal tertentu dikatakan kualitas berbeda.

Suku cadang dengan merek Denso seperti busi, platina, kondensor, koil dan sebagainya, yang serupa, diedarkan dan dipasangkan pada merek mobil tertentu dengan label merek mobil itu. Denso juga melepas bebas produknya ke pasar dengan harga yang tidak terlalu beda jauh dengan harga suku cadang merek mobil. Selain nipondenso juga membuat filter udara, bensin, solar, dan oli. Namun, suku-suku cadang ini tidak diedarkan bebas di luar outlet merek mobil bersangkutan.

Hal serupa juga dilakukan oleh saringan oli merek Sakura. Karena itu, merek bisa berbeda tetapi kualitasnya sama. Yang termasuk jenis lain seperti Kayaba untuk shockbreaker, Koito dan Iki untuk lampu-lampu, serta Akebono untuk shoe kit (sepatu rem).

4. Suku cadang rebuilt banyak pula beredar. Bahkan kini ada dua pilihan. Rebuilt dalam negeri dan eks Singapura. Untuk hal ini, pembeli lebih suka memilih eks Singapura. Alasannya cara pakai dan cara rebuilt-nya lebih baik daripada buatan dalam negeri. Berpandai-pandailah memilih suku cadang ini, karena selain tidak ada jaminan, kita tidak tahu apa yang ada di bagian dalamnya.

5. Adanya penurunan bea impor, dimanfaatkan para importir. Apalagi dollar terus bergolak. Selisih kurs yang besar, jelas memberi keuntungan. Hal ini bisa terjadi karena ATPM yang selama ini bertanggungjawab memberi pelayanan purna jual, mengimpor suku cadang saat kurs dollar tinggi. Saat kurs dollar turun, para importir beramai-ramai mengimpor suku cadang dari luar. Perang harga pun tak terhindarkan. ATPM tidak bisa melawan murahnya barang-barang yang diimpor para importir dari negeri lain seperti Singapura, Malaysia, maupun Thailand.

6. Bagi ATPM, penggunaan suku cadang asli merupakan keharusan. Namun di saat krisis, suku cadang asli amat mahal, mengakibatkan para pembeli menoleh ke pilihan lain yang lebih murah. Kualitas barang terjamin seperti ada jaminan terhadap mobil yang dijual.

Kebingungan akibat banyaknya pilihan suku cadang, tentu menempatkan pembeli pada posisi empuk untuk ditipu. Lantas, bagaimana menyiasati hal itu? Cara paling kuno adalah memiliki "dokter pribadi" alias montir yang menjadi langganan. Cara aman lain adalah membeli suku cadang pada toko suku cadang dealer merek mobil atau mobil direparasi di bengkel dealer. Atau, membeli suku cadang pada toko langganan Anda. Namun, bila ingin mencari bengkel lain yang lebih aman, carilah bengkel yang memberi jaminan setelah reparasi. Kini mulai ada bengkel yang sekaligus menyediakan suku cadang dan memberi jaminan atas suku cadang yang dipasangkan. Secara fisik, membedakan suku cadang asli dan imitasi tidak begitu sulit. Seperti arloji. Dari mutu rantai dan metal, akan tampak barang ini asli atau imitasi.

* Martin Teiseran, ahli mekanik tinggal di Semarang

Tidak ada komentar:

Konsultasi, informasi dan tanya jawab. Kirim email ke martin.teiseran@yahoo.co.id


Free shoutbox @ ShoutMix